PERISTIWA SUNDA BUBAT

Maret 21, 2010

PERISTIWA BUBAT

umuli pasunda-bubat. Bhre prabhu ayun ing putri ring Sunda.

Patih Madu ingutus angundangeng wong Sunda.

Ahidep wong Sunda yan awarawarangana.

Teka ratu Sunda maring Majapahit,

sang ratu Maharaja tan pangaturaken putri.

Wong Sunda kudu awiramena tingkahing jurungen.

Sira patihing Majapahit tan payun yen wiwahanen-

reh sira rajaputri makaturatura.

Tulisan diatas merupakan kisah tragedi bubat, dimuat dalam Berita Pararathon. Kitab tersebut menyebutnya Pabubat atau Pasunda Bubat.

Tragedi Bubat terjadi antara Kerajaan Sunda dengan Majapahit, ketika di Majapahit dibawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada, sedangkan Kerajaan Sunda pada waktu di pimpin oleh Prabu Maharaja Linggabuana. Bubat terletak di Wilayah Jawa Timur, sebelah utara Majapahit.

Tragedi Bubat diperkirakan terjadi pada abad Ke-14, tepatnya pada hari selasa, sebelum tengah hari, dasawarsa 6, tahun 1357 M. Menurut Berita dari Nusantara II/2 halaman 62, dikisahkan gugurnya Prabu Linggabuana beserta para ksatria Sunda, sebagai berikut :

‘Selanjutnya dikisahkan, pada tanggal 13 bagian terang bulan Badra tahun 1279 Saka Sang Prabu Maharaja Sunda gugur di Bubat di negeri Majapahit. Saat itu Sang Prabu Maharaja bermaksud menikahkan putrinya yaitu Sang Retna Citraresmi atau Dyah Pitaloka dengan Bre Prabu Majapahit yang bernama Sri Rajasanagara’.

Tragedi Bubat dikisahkan dalam beberapa sumber, antara lain Kidung Sunda ; Kidung Sundayana ; Carita Parahyangan ; Kitab Pararathon ; dan Pustaka Nusantara. Bahkan sudah terbit novel yang bersifat hiburan dan memuaskan keingin tahuan pembaca. Karena tentunya, mengisahkan Gajah Mada tidaklah lengkap jika tidak mencantumkan Peristiwa Bubat.

Seorang pakar Belanda bernama Prof Dr.C.C.Berg, menemukan beberapa versi Kidung Sunda, disinyalir disusun dengan menggunakan bahasa Jawa Pertengahan, berbentuk tembang (syair). Dua di antaranya pernah dibicarakan dan diterbitkannya, yaitu Kidung Sunda dan Kidung Sundayana (Perjalanan Urang Sunda) yang berasal dari Bali.

Di Bali Kidung Sundayana di kenal dengan nama Geguritan Sunda. Mungkin karena Berg kebetulan orang Belanda, dan pada masa lalu banyak menyebar luaskan kepada khalayak, maka masalah Bubat pernah disebut-sebut sebagai upaya Belanda untuk memecah belah Indonesia. Tapi dokumen lainpun selain Kidung Sundayanan atau Geguritan Sunda ditemukan pula, seperti dalam naskah Pararathon dan Pustaka Nusantara. Bahkan sekalipun hanya satu alinea, di dalam Carita Parahyangan pun di muat, sebagai berikut :

  • Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.

  • Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.

Kidung Sunda atau Kidung Sundayana merupakan upaya dan niat baik Prabu Hayam Wuruk untuk menyesalkan masalah bubat. Hayam Wuruk mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahannya. Melalui perantara Sang Darmadyaksa itu Hayam Wuruk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati, pada waktu itu menggantikan Raja Sunda. Pada kesempatan itu pula dijanjikan, bahwa : peristiwa bubat akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana. Semua bertujuan agar dapat diambil hikmahnya.

Hubungan Sunda dengan Majapahit

Didalam Pustaka Nusantara II diterangkan bahwa permaisuri Darmasiksa adalah putri keturunan Sanggramawijayottunggawarman, penguasa Sriwijaya yang bertahta sejak tahun 1018 sampai dengan 1027 M. Dari perkawinannya lahir dua orang putra, yakni Rakeyan Jayagiri atau Rakeyan Jayadarma dan Sang Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah, dikenal pula dengan sebutan Sang Lumahing Taman.

Rakeyan Jayadarma dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal, sedangkan putranya yang kedua, yakni Ragasuci dijodohkan dengan Dara Puspa, putri Trailpkyaraja Maulibusanawar-madewa, dari Melayu. Dara Kencana, kakak dari Dara Puspita diperistri oleh Kertanegara, raja Singosari. Dari posisi campuran perkawinan pada waktu itu sunda dapat memposisikan diri sebagai pelaku penengah pada setiap terjadi perselisihan antara Sumatra dan Jawa Timur (lihat Kerajaan Sunda 1).

Hubungan kekerabatan Sunda dengan Majapahir dimuat pula dalam naskah lain. Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 : Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Dharmasiksa Raja Sunda, adalah menantu Mahisa Campaka dari Jawa Timur. Rakeyan Jayadarma berjodoh dengan putrinya Mahisa Campaka yang bernama Dyah Singamurti alias Dyah Lembu Tal. Mahisa Campaka adalah anak dari Mahisa Wong Teleng, yang merupakan anak dari Ken Angrok, raja Singosari dari Ken Dedes.

Dari pernikahan Rakeyan Jayadarma denga Dyah Lembu Tal di Pakuan, memiliki putra yang bernama Sang Nararya Sanggramawijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya. Dengan demikian Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes.

Dikarenakan Jayadarma wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Raden Wijaya setelah dewasa menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Raden Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia lahir di Pakuan.

Dari alur kesejarahan tersebut, Raden Wijaya di Sunda dikenal juga sebagai Cucu dari Prabu Darmasiksa, Raja sunda yang ke-25, ayah Rakeyan Jayadarma. Dalam Pustaka Nusantara III dikisahkan pula, bahwa : Darmasiksa masih menyaksikan Raden Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir Pasukan Kublay Khan dari Jawa Timur. Empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.

Hubungan Darmasiksa dengan Raden Wijaya ditulis pula dalam Pustaka Nusantara III, tentang pemberian nasehat Darmasiksa kepada Raden Wijaya, cucunya. Ketika itu Raden Wijaya berkunjung ke Pakuan dan mempersembah-kan hadiah kepada kakeknya. Nasehat tersebut, sebagai berikut :

Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu. Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.

Ikang Sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowangsowang. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duh kantara, wilwatika sakopayana maweh carana ; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.

(Janganlah hendaknya kamu menggangu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada Saudaramu bila kelak aku telah tiada. Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaan mu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugrah dari Yang Maha Esa dan menjadi suratan-Nya.

Sudah selayaknya kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda saling membantu, bekerjasama dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Karena itu janganlah beselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing. Bila demikian akan menjadi keselamatan dankebahagiaan yang sempurna. Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan ; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit).

Memang, ketika masa Raden Wijaya, hubugan Sunda dengan Majapahit sangat baik dan tanpa percekcokan.

Rencana pernikahan Prabu Hayam Wuruk

Peristiwa Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk untuk mempersunting putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh Sungging Prabangkara, seniman lukis pada masa itu. Alasan ini hampir sama dengan yang dimuat di Buku Novel tentang Bubat. Dyah Pitaloka di gambar secara diam-diam atas perintah keluarga keraton, bertujuan untuk mengetahui paras Sang Putri.

Alasan yang mungkin dapat masuk akal dipaparkan oleh penulis sejarah Pajajaran, yakni Saleh Danasasmita dan penulis naskah Perang Bubat, yakni Yoseph Iskandar. Kedua akhli sejarah ini menyebutkan, bahwa niat pernikahan itu untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Urang Sunda masih merasa saudara dengan urang Majapahit,. Karena Raden Wijaya yang menjadi pendiri Majapahit, dianggap masih keturunan Sunda. Pernikahan demikian dianggap wajar dimasa lalu, sama seperti yang dilakukan raja-raja sebelumnya. Seperti hubungan Galuh dengan Kalingga dijaman Wretikandayun, yang menikahkan Mandiminyak, putranya dengan Parwati, Putri Ratu Sima (Lihat hubungan Sunda dengan Majapahit).

Niat Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka telah direstui keluarga kerajaan, sehingga tak lagi ada masalah dengan status kedua kerajaan, kecuali untuk melangsungkan pernikahan. Selanjutnya Hayam Wuruk mengirim surat lamaran kepada Maharaja Linggabuana dan menawarkan agar upacara pernikahan dilakukan di Majapahit.

Tawaran Majapahit tentunya masih dipertimbangkan, terutama oleh Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Pertama, masalah lokasi atau tempat pernikahan. Pada waktu itu adat di Nusantara menganggap tidak lajim jika pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Kedua, diduga alasan ini merupakan jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara. Namun Prabu Linggabuana hanya melihat adanya rasa persaudaraan dari garis leluhurnya, sehingga ia memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit.

Rombongan kerajaan Sunda kemudian berangkat ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Kegamangan Prabu Hayam Wuruk

Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gajah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda. Niat gajah Mada ini untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut. Karena dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan sundalah yang belum dikuasai Majapahit. Dengan maksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta.

Rencana tersebut di sampaikan kepada Prabu Hayam Wuruk, Gajah Mada pun mendesaknya untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda. Selain diharapkan pula agar sunda mau mengakui mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana menjadi bimbang. Ia terjebak dalam dilema, antara cinta dan perlunya mentaati saran Gajah Mada. Disisi lain, Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Peristiwa selanjutnya dikisahkan didalam Kidung Sunda, dalam bentuk Sinom, sebagai berikut :

  • ‘Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.
  • Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Beliau disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vaza-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.

Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.

Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja”.

Kegagalan Diplomatik

Ketika mengetahui adanya keraguan dari pihak Majapahit, Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Beliau disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji.

Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vaza-vazal Nusantara Majapahit. Dalam kisah tersebut diceritakan pula dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut, setelah mendengar, bahwa kedatangan mereka (sunda) dianggap hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui keunggulan Majapahit, bukan karena undangan untuk menikahkan seperti janji sebelumnya. perselisihan tersebut ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan Sunda, dengan meninggalkan pesan, Raja Sunda akan memberi kabar dalam waktu dua hari.

Kemarahan utusan sunda dikisahkan dalam Kidung Sunda, sebagai berikut :

Dalam Bahasa Jawa Pertengahan :

  • Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.
  • Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.
  • Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burěngik, padâmalakw ing urip.
  • Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu těmbe yen antu.

Dalam bahasa Sunda :

“Hé Gajah Mada, naon maksudna anjeun gedé bacot ka kami? Kami mah rék mawa Rajaputri, sedeng anjeun kalah miharep kami mawa upeti kawas ti Nusantara. Kami mah béda. Kami urang Sunda, can kungsi éléh perang.

Kawas nu poho baé sia baheula, nalika anjeung keur perang di wewengkon pagunungan. Perang campuh diuudag urang Jipang. Terus patih Sunda datang deui sahingga pasukan dia mundur.

Mantri sia nu dua nu ngaranna Les jeung Beleteng dikadék nepi ka paéh. Pasukan sia bubar jeung kalabur. Aya nu labuh ka jurang sarta ti kakarait kana cucuk rungkang. Maranéhna paéh kawas lutung, owa, jeung setan, lalumengis ménta hirup.

Ayeuna sia gedé sungut. Bau sungut sia kawas kasir, kawas tai anjing. Ayeuna kahayang sia teu sopan sarta hianat. Nuturkeun ajaran naon salian ti hayang jadi guru nu ngabohong jeung milampah rucah. Nipu jalma budi hadé. Mun paéh, roh sia bakal asup naraka!”

Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar terakhir adanya rencana Gajah Mada, ia tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Kemudian raja Sunda memberikan putusan untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.

Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.

Peristiwa Bubat

Terjadinya suatu peperangan biasanya didahului dengan kegagalan diplomatik. Demikian juga pada peristiwa Bubat. Masalahnya semakin meruncing ketika Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut. Wajar jika Hayam Wuruk merasa ragu, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang paling diandalkannya.

Sebelum Prabu Hayam Wuruk memberikan putusan, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat. Lantas ia pun mengancam Linggabuana untuk mengakui keunggulan Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu.

Peristiwa dan dialog tersebut digambarkan, sebagai berikut :

[…], yan kitâwĕdîng pati, lah age marĕka, i jĕng sri naranata, aturana jiwa bakti, wangining sĕmbah, sira sang nataputri.

Wahu karungu denira sri narendra, bangun runtik ing ati, ah kita potusan, warahĕn tuhanira, nora ngong marĕka malih, angatĕrana, iki sang rajaputri.

Mong kari sasisih bahune wong Sunda, rĕmpak kang kanan keri, norengsun ahulap, rinĕbateng paprangan, srĕngĕn si rakryan apatih, kaya siniwak, karnasula angapi

Dalam Bahasa Sunda :

[…], jika engkau takut mati, datanglah segera menghadap Sri Baginda (Hayam Wuruk) dan haturkan bukti kesetianmu, keharuman sembahmu dengan menghaturkan beliau sang Tuan Putri.

Maka ini terdengar oleh Sri Raja (Sunda) dan beliau menjadi murka: “Wahai kalian para duta! Laporkan kepada tuanmu bahwa kami tidak akan menghadap lagi menghantarkan Tuan Putri!”

“Meskipun orang-orang Sunda tinggal satu tangannya, atau hancur sebelah kanan dan kiri, tiada akan ‘silau’ beta!”. Sang Tuan Patih juga marah, seakan-akan robek telinganya mendengarkan (kata-kata pedas orang Majapahit).

Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan yang sangat kecil, terdiri dari pengawal kerajaan (Balamati) dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda.

Didalam pertempuran tersebut ada seorang perwira Sunda yang pura-pura mati. Setelah suasana agak reda lantas ia memberitahukan peristiwa terakhir itu kepada ratu dan putri Sunda di perkemahan. Selanjutnya ratu dan putri Sunda melakukan mati bela. Sedangkan istri para perwira Sunda menyongsong ke medan perang. Dihadapan jenazah suaminya merekapun melakukan mati – bela.

Peristiwa ini diabadikan didalam Kidung Sunda, dengan Pupuh II (Durma), digambarkan :

Dua pihak geus sariaga. Utusan Majapahit dikirim ka pakémahan Sunda kalawan mawa surat nu eusina pasaratan ti Majapahit. Pihak Sunda nolak kalawan ambek sahingga perang moal bisa dicegah deui.

Pasukan Majapahit disusun ku barisan prajurit biasa di hareup, terus tukangeunana para pangagung karaton, Gajah Mada, sarta Hayam Wuruk jeung dua pamanna pangtukangna.

Perang campuh lumangsung, ngabalukarkeun loba pisan prajurit Majapahit nu tiwas, tapi tungtungna ampir sadaya pasukan Sunda tiwas digempur bébéakan ku pasukan Majapahit. Anepakén tiwas ku Gajah Mada, sedengkeun raja Sunda tiwas ditelasan ku bésanna sorangan, raja Kahuripan jeung Daha. Hiji-hijina nu salamet nyaéta Pitar, perwira Sunda nu pura-pura tiwas di antara pasoléngkrahna mayit prajurit Sunda. Lajeng anjeunna nepungan ratu jeung putri Sunda. Aranjeunna kalintang ngarasa sedih, lajeng nelasan manéh, sedengkeun para istri perwira Sunda arangkat ka médan perang lajeng narelasan manéh hareupeun mayit para salakina

Menurut Berita Nusantara II/2, peristiwa tersebut terjadi pada hari selasa – Wage sdebelum tengah hari. Semua orang Sunda yang dibubat itu telah binasa. Tak ada seorangpun yang tersisa.

Pasca Peristiwa

Berita Nusantara II/2 mengisahkan, Prabu Hayam Wuruk tiba bersama pengiringnya dan Gajah Mada di Bubat. Kemudian ia meneliti dan memperhatikan mayat orang-orang Sunda satu demi satu. Ketika matanya tertatap sesosok mayat, ia melihat Sang Putri telah terbujur kaku, maka sangatlah luka hatinya. Ia terisak menahan tangis. Kemudian semua mayat itu dimasukan kedalam bandusa (peti mati) dan diberi tulisan yang memuat nama masing-masing.

Peristiwa ini dilukiskan dengan pilu didalam Kidung Sunda, sebagai berikut :

  • Sireñanira tinañan, unggwani sang rajaputri, tinuduhakěn aneng made sira wontěn aguling, mara sri narapati, katěmu sira akukub, perěmas natar ijo, ingungkabakěn tumuli, kagyat sang nata dadi atěmah laywan.
  • Wěněsning muka angraras, netra duměling sadidik, kang lati angrawit katon, kengisning waja amanis, anrang rumning srigading, kadi anapa pukulun, ngke pangeran marěka, tinghal kamanda punyaningsun pukulun, mangke prapta angajawa.
  • Sang tan sah aneng swacita, ning rama rena inisti, marmaning parěng prapta kongang mangkw atěmah kayêki, yan si prapta kang wingi, bangiwen pangeraningsun, pilih kari agěsang, kawula mangke pinanggih, lah palalun, pangdaning Widy angawasa.
  • Palar-palarěn ing jěmah, pangeran sida kapanggih, asisihan eng paturon, tan kalangan ing duskrěti, sida kâptining rawit, mwang rena kalih katuju, lwir mangkana panapanira sang uwus alalis, sang sinambrama lěnglěng amrati cita.
  • Sangsaya lara kagagat, pětěng rasanikang ati, kapati sira sang katong, kang tangis mangkin gumirih, lwir guruh ing katrini, matag paněděng ing santun, awor swaraning kumbang, tangising wong lanang istri, arěrěb-rěrěb pawraning gělung lukar.

Alihbahasa:

(Maka ditanyalah dayang-dayang di manakah gerangan tempat Tuan Putri. Diberilah tahu berada di tengah ia, tidur. Maka datanglah Sri Baginda, dan melihatnya tertutup kain berwarna hijau keemasan di atas tanah. Setelah dibuka, terkejutlah sang Prabu karena sudah menjadi mayat.

Pucat mukanya mempesona, matanya sedikit membuka, bibirnya indah dilihat, gigi-giginya yang tak tertutup terlihat manis, seakan menyaingi keindahan sri gading. Seakan-akan ia menyapa: “Sri Paduka, datanglah ke mari. Lihatlah kekasihnda (?), berbakti, Sri Baginda, datang ke tanah Jawa.

Yang senantiasa berada di pikiran ayah dan ibu, yang sangat mendambakannya, itulah alasannya mereka ikut datang. Sekarang jadinya malah seperti ini. Jika datang kemarin dulu, wahai Rajaku, mungkin hamba masih hidup dan sekarang dinikahkan. Aduh sungguh kejamlah kuasa Tuhan!

Mari kita harap wahai Raja, supaya berhasil menikah, berdampingan di atas ranjang tanpa dihalang-halangi niat buruk. Berhasillah kemauan bapak dan ibu, keduanya.” Seakan-akan begitulah ia yang telah tewas menyapanya. Sedangkan yang disapa menjadi bingung dan merana)

Prabu Hayam Wuruk keluar dari tenda Sang Putri. Dari kejauhan nampak berkibar dua panji, yakini panji kerajaan Majapahit dan Sunda. Ia pun menugaskan Sang Patih Gajah Mada untuk menyelenggarakan upacara kematian secara kebesaran esok harinya. Ketika semua mayat dimandi sucikan dan diperabukan, tampak ribuan penduduk dari daerah sekitarnya memenuhi lapangan, menyaksikan dengan penuh haru. Kelak di Sunda dibuat patung pribadi Sang Maharaja. Selanjutnya Hayam Wuruk memerintahkan para darmayaksa untuk menemui Bunsora dan mengirimkan surat untuk memimtakan maaf atas peristiwa Bubat. Hayam Wuruk berjanji pula, tidak akan pernah terjadi lagi Majapahit menyakiti hati Urang Sunda untuk yang kedua kalinya.

Tentang Prabu Hayam Wuruk dan Gajah Mada, memang ada kelanjutannya dalam Kidung Sunda, dalam Pupuh III (Sinom), dalam bahasa Sunda, sebagai berikut :

Prabu Hayam Wuruk ngarasa hariwang nempo perang ieu. Anjeunna lajeng angkat ka pakémahan putri Sunda, sarta mendakan putri Sunda geus tiwas. Prabu Hayam Wuruk kacida nalangsa ku hayangna ngahiji jeung putri Sunda ieu.

Satutasna ti éta, dilaksanakeun upacara pikeun ngadungakeun para arwah. Teu lila ti kajadian ieu, Hayam Wuruk mangkat ku rasa nalangsa nu kacida.

Sanggeus anjeunna dilebukeun sarta sadaya upacara geus réngsé, paman-pamanna ngayakeun sawala. Aranjeunna nyalahkeun Gajah Mada kana kajadian ieu, sarta mutuskeun rék néwak sarta nelasan Gajah Mada. Nalika aranjeunna datang ka kapatihan, Gajah Mada geus sadar yén wancina geus datang. Gajah Mada maké sagala upakara (kalengkepan) upacara lajeng milampah yoga Samadi, sahingga anjeunna ngaleungit (moksa) ka (niskala).

Raja Kahuripan jeung Daha, nu sarupa jeung “Siwa jeung Buda”, mulang ka nagarana séwang-séwangan, sabab mun cicing di Majapahit teu weléh kasuat-suat ku kajadian ieu.

Versi lainnya dimuat dalam Pustaka Nusantara II/2, yakni :

akibat peristiwa Bubat itu Prabu Hayam Wuruk sakit lama karena menyesal. Keluarga Kerajaan Majapahit seperti ayah, ibu dan adik-adik PrabuHayam Wuruk meyakini bahwa nama buruk Majapahit akibat peristiwa bubat. Yang menyebabkan Sri Rajasanagara sakit parah itu adalah prakarsa Sang Mangkubumi Gajah Mada. Mereka memutuskan bahwa sang Mangkubumi harus ditangkap. Tetapi rencana tersebut dapat diketahui sehingga ketika pasukan Bhayangkara kerajaan datang di puri Gajah Mada, sang mangkubumi telah lolos tanpa seorang pun mengetahui tempat persembunyiannya. Baru beberapa tahun kemudian setelah Prabu Hayam Wuruk mempersunting puteri raja Wengker, Ratu Ayu Kusumadewi, ia memberi ampun kepada sang Mangkubumi dan mengundangnya untuk menepati jabatannya yang semua.

Kemudian ada juga versi yang menjelaskan, bahwa akibat peristiwa Bubat ini hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (ada juga yang menyatakan moksa), pada tahun 1364 M.

Keteguhan Janji

Hayam Wuruk memang telah meminta maaf dan berjanji untuk tidak lagi menyerang Urang Sunda. Sunda pun tidak berniat menyerang Majapahit. namun sebagai antispasi dan kewaspadaan, Mangkubumi Bunisora masih belum merasa yakin atas janji yang disampaikan Hayam Wuruk. Ia tidak mau terjadi lagi peristiwa seperti Bubat. Pura-pura diajak bersaudara namun diperih pati.

Sebagai bentuk kewaspadaan, Iapun menyiagakan angkatan perang dan angkatan lautnya. Armada Sunda ditempatkan di tungtung Sunda, yaitu di kali Brebes (Cipamali) yang menjadi perbatasan Sunda dengan Majapahit. Namun Hayam Wuruk menepati janjinya dan tidak menyerang Sunda untuk yang kedua kalinya.

Tentang janji ini dibuktikan pula, ketika Prabu Hayam Wuruk hendak melakukan ekspedisi ke Sumatera, ia terlebih dahulu memberi kabar kepada Hyang Bunisora bahwa kapal-kapal Majapahit akan melewati perairan Sunda.

Pentaatan Raja-raja Sunda terhadap perjanjian ini juga diwariskan sampai pada jaman Pajajaran. Ketika itu Majapahit semasa dipimpin Prabu Kertabumi atau Brawijaya V, pada tahun 1478 kalah perang dari Demak dan Girindrawardana, banyak keluarga keraton Majapahit mengungsi ketimur : Panarukan, Pasuruan, Blambangan dan Supit Udang. Gelombang pengungsia ada juga yang menuju ke barat, ke daerah Galuh dan Kawali. Rombongan yang terkahir ini di pimpin oleh Raden Baribin, mereka disambut dengan senang hati oleh Dewa Niskala. Raden, rat Galuh. Baribin kemudian di jodohkan dengan Ratu Ayu Kirana, putri Prabu Dewa Niskala. Putri ini adiknya banyakcatra atau Kamandaka, bupati Galuh di Pasir Luhur dan Banyakngampar bupati Galuh di Dayeuh Luhur.

Namun sayangnya Dewa Niskala ‘ngarumpak larangan’ dengan cara menikahi seorang rara hulanjar dan istri larangan. Masalah hululanjar sama halnya dengan aturan di majapahit, yakni tidak boleh memperistri perempuan yang masih bertunangan, kecuali tunangannya telah meninggal dunia atau membatalkan pertunangannya. Sedangkan yang dimaksud istri larangan, yakni tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit). Hal ini sangat erat hubungannya dengan akibat Peristiwa Bubat.

Sampai akhirnya, Majapahit berkuasa kurang lebih 200 tahun, namun ia tidak bisa menguasai Sunda. Demikian pula Sunda, dari sasakalana tidak pernah melakukan ekspansi ke Majapahit.

Cag heula………………… )

Catetan : Ki Balangantrang

Sumber bacaan :

1. rintisan penelusuran masa silam Sejarah Jawa Barat (1983-1984).

2. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

3. Yosep Iskandar, “Perang Bubat”, Naskah bersambung Majalah Mangle, Bandung, 1987.

3. Yus Rusyana – Puisi Geguritan Sunda : PPPB, 1980

4. Sumber lain.

Iklan

PANEN PERDANA PADI GOGO

Februari 11, 2010

PRESS RELEASE
PANEN RAYA PADI GOGO/PADI LADANG
DAN EKSPOSE GELAR INOVASI TEKNOLOGI PADI
DI DESA CIBALIUNG, KEC. CIBALIUNG KAB. PANDEGLANG
KAMIS, 11 PEBRUARI 2010

PROVINSI BANTEN MERUPAKAN SALAH SATU PROVINSI PENYUMBANG PRODUKSI PADI YANG SIGNIFIKAN BAGI PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI NASIONAL.

MENURUT LAPORAN BPS (ANGKA RAMALAN III TAHUN 2009), PRODUKSI PADI DI BANTEN MENCAPAI 1,86 JUTA TON GABAH KERING GILING. TINGKAT PRODUKSI INI DAPAT MENCUKUPI KEBUTUHAN BERAS BAGI MASYARAKAT BANTEN, BAHKAN TERDAPAT SURPLUS SEBESAR 66.823 TON SETARA BERAS.

MESKIPUN PRODUKSI TERSEBUT SEBAGIAN BESAR BERASAL DARI PADI SAWAH (94%), NAMUN PERHATIAN TERHADAP PADI GOGO/PADI LADANG (YANG MENYUMBANGKAN PRODUKSI SEBANYAK 6%) TIDAK DAPAT DIKESAMPINGKAN.

PEMERINTAH PROVINSI BANTEN MEMANDANG PENTING PADI GOGO/PADI LADANG KARENA BEBERAPA PERTIMBANGAN :

1. USAHA TANI PADI GOGO/PADI LADANG MERUPAKAN WARISAN BUDAYA LELUHUR BANTEN, HAL INI DAPAT DILIHAT PADA TRADISI MASYARAKAT BADUY DAN MASYARAKAT BANTEN SELATAN.

2. SEBAGIAN WARGA BANTEN MENGGANTUNGKAN PEMENUHAN KEBUTUHAN BERASNYA DARI USAHA TANI PADI GOGO/PADI LADANG.

3. MASIH TERDAPAT POTENSI PENINGKATAN PRODUKSI PADI GOGO/PADI LADANG YANG PADA GILIRANNYA DAPAT MENYUMBANG TERHADAP PRODUKSI REGIONAL DAN NASIONAL, PALING TIDAK MELALUI 2 (DUA) PENDEKATAN, YAITU :
a. PERLUASAN AREAL TANAM;
b. PENINGKATAN PRODUKTIVITAS.

4. SAAT INI LUAS PANEN PADI GOGO/PADI LADANG MENCAPAI 33.362 HEKTAR (ANGKA RAMALAN III BPS TAHUN 2009). PERLUASAN AREAL MASIH MEMUNGKINKAN DENGAN MEMANFAATKAN BEBERAPA KAWASAN SEBAGAI BERIKUT :
a. KAWASAN PERKEBUNAN YANG SEDANG DIREMAJAKAN;
b. KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DIKELOLA OLEH PERUM PERHUTANI KPH BANTEN SELUAS 66.133 HEKTAR.
DENGAN TINGKAT PRODUKTIVITAS SEBESAR 3,24 TON PER HEKTAR GABAH KERING GILING (ANGKA RAMALAN III BPS TAHUN 2009), PERLUASAN AREAL TANAM BERPOTENSI MENYUMBANGKAN PRODUKSI PADI SEBESAR 214.271 TON.

5. UPAYA DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PADI GOGO/PADI LADANG DITEMPUH MELALUI PERBAIKAN PENERAPAN TEKNOLOGI, YANG DIHARAPKAN DAPAT MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI. TELAH DIKEMBANGKAN MODEL PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU BERBASIS PADI GOGO/PADI LADANG YANG BERPOTENSI MENGHASILKAN PRODUKTIVITAS PADI GOGO/PADI LADANG LEBIH DARI 5 TON PER HEKTAR GABAH KERING GILING. SALAH SATU PAKET TEKNOLOGI PERBAIKAN YAITU PENGGUNAAN VARIETAS UNGGUL BARU SEPERTI SITU PATENGGANG, LIMBOTO DAN BATU TEGI YANG TELAH DIPERKENALKAN KEPADA PARA PETANI DI PROVINSI BANTEN.

6. GELAR INOVASI TEKNOLOGI PADI GOGO/PADI LADANG/PADI LADANG PADA MUSIM TANAM 2009/2010 DI DESA CIBALIUNG KEC. CIBALIUNG KAB. PANDEGLANG SELUAS 200 HEKTAR DITUJUKAN UNTUK :
a. MENINGKATKAN KOORDINASI DAN KETERPADUAN PELAKSANAAN PENGEMBANGAN SERTA PENINGKATAN PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS PADI GOGO/PADI LADANG MELALUI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU ANTARA PUSAT, PROVINSI DAN KABUPATEN;
b. MEMPERCEPAT PROSES SOSIALISASI DAN ADOPSI TEKNOLOGI PADI GOGO/PADI LADANG DI PROVINSI BANTEN;
c. MEMPERCEPAT PENERAPAN KOMPONEN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) PADI GOGO/PADI LADANG OLEH PETANI SEHINGGA DAPAT MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN DALAM MENGELOLA USAHA TANINYA UNTUK MENDUKUNG PENINGKATAN PRODUKSI;
d. MEMPEROLEH MASUKAN BERUPA UMPAN BALIK TEKNOLOGI YANG DIBUTUHKAN OLEH PETANI DAN PENGGUNA LAINNYA KHUSUSNYA DI BAGIAN BANTEN SELATAN;
e. MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS, PRODUKSI DAN PENDAPATAN SERTA KESEJAHTERAAN PETANI.

7. DALAM UPAYA DIVERSIFIKASI SUMBER – SUMBER PENDAPATAN PARA PETANI BERBASIS PADI GOGO/PADI LADANG, AKAN DIKEMBANGKAN BEBERAPA INTEGRASI USAHA TANI SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK AGROEKOSISTEM LAHAN KERING, ANTARA LAIN INTEGRASI PADI GOGO/PADI LADANG – KERBAU, TUMPANG SARI PADI – PALAWIJA DAN PERBAIKAN POLA TANAM SETAHUN. HAL INI MERUPAKAN PERWUJUDAN DARI GERAKAN AKSI MEMBANGUN PERTANIAN RAKYAT TERPADU (GEMPITA RATU).

8. GEMPITA RATU MERUPAKAN POLA FIKIR DAN POLA TINDAK YANG DIMAKSUDKAN UNTUK MENDUKUNG TERWUJUDNYA PERCEPATAN PEMBANGUNAN PUSAT PERTUMBUHAN DALAM KERANGKA REVITALISASI PERTANIAN MELALUI PENGUATAN STRUKTUR EKONOMI BERBASIS AGRIBISNIS, DENGAN PENDEKATAN KAWASAN, KETERPADUAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERTANIAN. GEMPITA RATU DIKEMBANGKAN DENGAN TUJUAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI PERTANIAN, MENGURANGI PENGANGGURAN, MENEKAN ANGKA KEMISKINAN, MEMENUHI KEBUTUHAN PANGAN DAN MENINGKATKAN NILAI TAMBAH DAN KEMITRAAN USAHA.

Januari 31, 2010

WERENG COKLAT
Sebagai Hama Utama Tanaman Padi
dan upaya pengendalianya


Salah satu hambatan dalam menaikkan produksi beras di Indonesia adalah serangan hama wereng coklat ( Nilaparvata Lugens). Wereng coklat secara langsung merusak tanaman padi karena nimfa dan imagonya mengisap cairan sel tanaman sehingga tanaman kering dan akhirnya mati. Kerusakan secara tidak langsung terjadi karena serangan penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa yang ditularkannya. Kerusakan berat yang disebabkan oleh wereng coklat terkadang ditemukan pada persemaian, tetapi sebagian besar menyerang pada saat tanaman padi masak menjelang panen.
Hama Wereng coklat mampu menimbulkan kerusakan hebat pada tanaman padi bahkan dapat menyebabkan puso.

Bila tanaman padi muda terserang, menjadi berwarna kuning, pertumbuhan ter-hambat dan tanaman kerdil. Pada serangan yang parah keseluruhan tanaman menjadi putih, kering dan mati, perkembangan akar merana dan bagian bawah tanaman yang terserang menjadi terlapisi oleh jamur, yang berkembang pada sekresi embun madu serangga. Serangga hama wereng coklat di Indonesia telah diketahui sejak sebelum perang dunia ke-II dengan luas daerah serangan yang terbatas. Serangan hama wereng pertama kali dilaporkan pada tahun 1931, yaitu dengan merusak beberapa petak tanaman padi di daerah Darmaga, Bogor kemudian Mojokerto pada tahun 1939, di Yogyakarta pada tahun 1940. Sampai tahun 1951 luas areal yang terserang sekitar 50 – 150 Ha padi sawah permusim di Jawa. Serangan hebat mulai terdapat di Jawa sekitar tahun 1969 dan di Sumatera Utara sekitar tahun 1972. Pada sekitar tahun 1974 terjadi epidemi di Sumatera Utara, Jabar, Jateng dan Jatim. Dua tahun setelah itu serangan wereng coklat meliputi seluruh wilayah Indonesia kecuali Irian Jaya dan Maluku. Pada tahun 1976 – 1977 lebih dari 450.000 Ha sawah diserang wereng coklat dan kerugian yang disebabkannya mencapai 100 juta US $. Pada tahun 1987 beberapa ribu Ha pertanaman padi di D. I. Yogyakarta dan Jateng terserang berat wereng coklat. Varietas utama yang banyak terserang adalah Cisadane. Wereng coklat ini agak berbeda dengan wereng coklat biotipe 1, 2, 3, 4 dan SU. Masalah wereng coklat ini bertambah kompleks dengan munculnya biotipe-biotipe baru. Hal ini disebabkan oleh kemampuan wereng coklat yang sangat tinggi untuk beradaptasi terhadap per-ubahan lingkungan. Siklus hidup wereng coklat yang pendek ( hanya 21- 30 hari dari stadia telur sampai dewasa), kemampuan berreproduksi yang tinggi ( di alam, seekor wereng betina mampu bertelur 100-600 butir semasa hidupnya), dan sifatnya yang hanya memakan padi, mendorong munculnya biotipe baru yang bisa mematahkan resistensi padi yang semula dianggap tahan. Hal ini terutama bila varietas tahan itu ketahanannya hanya terdiri dari satu gen dan ditanam monokultur terus-menerus.

Di Provinsi Banten keadaan OPT yang satu ini dirasakan masih menjadi Hama Utama dalam berusaha tani padi sawah,  kita lihat angka perkembangan keadaan serangan WBC yang ada di Kabupaten Pandeglang. Hasil pengamatan yang dilakukan oleh petugas POPT di beberapa kecamatan terdapat serangan yang sporadic terutama di kecamatan Patia, Sukaresmi, Pagelaran, dari hasil kunjungan tim BBOPT Jatisari dan Tim dari BPTPH Banten tanggal 22 Januari 2010 ditemukan populasi pada beberapa sample di kecamatan Patia Desa Surianeun, Kecamatan Sukaresmi, Kecamatan Pagelaran dengan rata- rata populasi 75 ekor/ rumpun. Dan dari hasil evaluasi tersebut  pada hari jumaat tanggal 29 Januari 2010 dilakukan rapat khusus POPT se Kabupaten Pandeglang bertempat di Kp. Kapinango Desa Kertasana Kecamatan Pagelaran Kab. Pandeglang. Seluruh petugas POPT kab. Pandeglang hadir dan dari Instalasi Laboratorium Lebak. Pokok bahasan memberikan peringatan kepada petugas POPT untuk lebih mengintensipkan pengamatan dan cepat melaporkan, serta penyamaan persepsi seputar OPOT yang satu ini.Untuk mengantipasi meluasnya serangan dan berdasarkan dari laporan peringatan bahaya serta rekomendasi pengendalian maka POPT yang diwilayahnya ada populasi OPT WBC di sarankan untuk diadakan gerakan pengendalian di kelompok tani. Sarana Racun dan Alat ( Hand Sprayer, Misblower ) di pasilitasi dari Distanak Prov. Banten melalui BPTPH.
PERUBAHAN BIOTIPE

Perubahan biotipe wereng coklat ini sebenarnya terjadi melalui seleksi alam. Dalam pertanaman padi yang intensif, penggunaan insektisida yang tidak tepat mematikan musuh alami tapi tidak mematikan telur dan nimfa wereng secara keseluruhan. Wereng yang selamat merupakan wereng yang secara genetik memang terseleksi dari lingkungan yang tidak menguntungkan. Hal ini mungkin terjadi karena populasi wereng coklat yang tinggi menyebabkan ke-ragaman genetik yang berbeda. Intensifikasi dengan varietas lokal yang unggul, memunculkan biotipe I yang dapat memusokan sawah. Kemudian diperkenalkan IR 26, dengan gen resistensi Bph 1 ( Bph = Brown Plant Hopper ), tapi kemudian muncul biotipe 2 . Selanjutnya dikenalkan IR 36 dengan gen resisten Bph 2 yang semula resisten terhadap biotipe 2 ternyata bisa dipatahkan dengan muculnya biotipe 3 yang latent. Lalu diper-kenalkan IR 56 dengan gen resisten Bph 3, tetapi kembali pertanaman yang monokultur dan terus-menerus meng-akibatkan gen resisten Bph 3 patah kembali. Kemudian diperkenalkan IR 64 dengan gen resistens Bph 4 yang tahan terhadap serangan wereng coklat biotipe 3 sampai sekarang.

PENCEGAHAN

Tindakan pencegahan yang hanya mengandalkan sepenuhnya pada pengendalian wereng pada penanaman varietas tahan saja, ternyata tidak mencegah eksplosi serangan. Harus diikuti tindakan lain, seperti pergiliran antar varietas dan antar tanaman. Sedangkan peng-gunaan insektisida, hanya dibatasi pada saat diperlukan, tapi bukan untuk pencegahan. Varietas padi yang tahan saat ini baru mampu dibuat dari satu gen resisten saja. Memang resistensinya sangat tinggi terhadap serangan wereng, tetapi tidak bisa bertahan lama karena sifat wereng yang hanya makan padi dengan keraganan genetik yang tinggi. Sampai saat ini sudah empat gen resisten wereng coklat yang ditemukan yaitu Bph 1, Bph 2, Bph 3 dan Bph 4. Waktu pengaturan tanam yang serempak merupakan prioritas pertama pengendalian wereng, karena secara efektif menekan populasi wereng melalui pemutusan rantai makan. Wereng coklat yang bermigrasi ( yang bersayap panjang ), biasanya mencari tanaman muda didekatnya bila tanaman padi di tempat asal mendekati pembungaan. Penggunaan insektisida hanya digunakan bila jumlah wereng melewati ambang ekonomis per rumpunnya. Penyemprotan pun tidak bisa dilakukan pukul rata pada semua areal yang luas ( Blanket spray ), tetapi per lokasi serangan. Hal ini selain dapat mencegah matinya musuh alami yang sebenarnya cukup efektif memangsa wereng coklat, tetapi juga mencegah munculnya resurjensi dan resistensi wereng coklat tersebut. Pada Blanket spray, musuh alami mati tapi telur dan nimfa wereng tidak mati, lalu mereka tumbuh subur karena tidak ada saingannya. Pada pen-yemprotan per lokasi, wereng di lokasi penyemprotan saja yang mati dan apabila cara penyemprotannya benar, telur dan nimfanya pun akan mati, sehingga kemungkinan resistensi yang menjurus timbulnya biotipe baru, bisa dicegah. Hal ini karena wereng di luar lokasi penyemprotan berinteraksi melalui per-kawinan dengan wereng di lokasi penyemprotan sehingga resistensi wereng coklat tersebut terhadap insektisida dan varietas padi yang ditanam tetap rendah. Penggunaan pestisida selalu membawa empat resiko yakni resistensi terhadap hama dan penyakit, munculnya hama dan penyakit baru akibat matinya musuh alami, resurjensi ( hama penyakit tersebut makin meningkat populasinya, juga disebabkan oleh matinya musuh alami akibat pestisida yang disemprotkan ) dan keracunan lingkungan. Setelah sekitar lima puluh tahun pestisida diperkenalkan, kini ditemukan pestisida generasi ketiga yang cara kerjanya tidak langsung mematikan serangga, tetapi merusak atau mengganggu proses fisiologis serangga. Salah satunya adalah buprofezin, yang dihasilkan Jepang, Mampu menahan telur wereng menetas dan nimfanya berganti kulit. Karena tidak bisa berganti kulit, padahal nimfa ini perlu bertambah besar untuk menjadi dewasa, maka nimfa tersebut akan mati. Namun demikian pestisida ini mempunyai kendala utama yakni saat pemberiannya yang harus tepat. Hal ini berhubungan dengan periode migrasi wereng dewasa bersayap panjang (makro-ptera) pada awal pem-bentukan anakan. Setelah menetap, wereng coklat mulai berkembang biak satu atau dua generasi pada tanaman padi stadia vegetataif, tergantung saat migrasinya jika terjadi 2-3 Minggu Setelah Tanam ( MST ), imigran berkembang biak dua generasi. Puncak populasi nimfa generasi pertama dan ke dua berturut-turut muncul pada umur padi 5-6 MST dan 10-11 MST. Bila imigrasi terjadi setelah padi umur 5-6 MST, puncak populasi nimfa hanya satu kali, yaitu 9-10 MST. Serangga dewasa yang muncul setelah padi berumur 7 MST, umumnya bersayap pendek (brak-hiptera) yang tidak dapat bermigrasi dan bertelur ditempat asal. Setelah itu, akibat tekanan populasi, yang muncul adalah makroptera yang jumlahnya meningkat saat tanaman memasuki stadium pembungaan. Makroptera inilah yang bermigrasi mencari tanaman padi muda baru di dalam jangkauannya. In-sektisida selain buprofezin, yaitu yang berbahan aktif karbonat digunakan pada saat padi berumur 8-11 MST. Di sinilah tampak pentingnya pengamat-an hama, untuk mendeteksi jumlah populasi wereng coklat dewasa. (red)

Safari Wakil Gubernur Banten di Cibaliung

Januari 19, 2010

Hari Selasa tanggal 18 Januari 2010,  Dinas Pertanian dan Peternakan Prov. Banten telah mendampingi Wakil Gubernur Banten, ikut dalam rombongan dari Distanak Banten yaitu dari Bidang Tanaman Pangan, BPTPH, BBI dan Fungsional,  kegiatan ini  dalam rangka safari pembangunan, salah satu yang dikunjungi beliau adalah kawasan Padi Gogo di Kecamatan Cibaliung Kabupaten Pandeglang, Padi gogo yang ditanam di lahan tersebut seluas  4 .000 ha dan yang masuk dalam program kegiatan adalah seluas 200 Ha, kegiatan penanaman padi gogo ini kerjasama Distanak Prov. Banten, Balai Besar Padi, BPTP Banten dan Dinas Pertanian Perkebunan Pandeglang. Pada areal seluas  200 ha ditanami beberapa jenis varietas unggul baru padi gogo, antara lain yang ditanam adalah Varietas Situ Patenggang, dengan keadaan pertanaman saat ini adalah sedang keluar malai jadi perkiraan panen jatuh pada bulan Pebruari.

Situ Pategang adalah varietas padi gogo (amphibi) yang berumur genjah (110-120 HSS), bertipe tanaman tegak agak, tanaman ini mempunyai tinggi antara 100 – 110 cm. Varietas ini mempunyai bentuk biji agak gemuk, warna gabah kuning kotor, bobot gabah 27 g/1000 butir, jumlah anakan produktif 10 – 11 batang/rumpun, produksi rata-rata 4,ton GKG/ha.

Keunggulan varietas ini tahan blas, tekstur nasi sedang dan bersifat aromatik, responsif terhadap pemupukan. Dapat dikembangkan di lahan kering pada musim hujan, lahan tipe tanah alluvial dan podsolik.(teng)

BPTPH BANTEN SELENGGARAKAN OUT BOND

Januari 17, 2010

Mengawali tahun 2010 warga BPTPH Banten selenggarakan OUT BOND tepatnya yaitu tanggal 15 sampai dengan  16 Januari 2009  bertempat di Bukit Lembah Hijau Jl. Raya Anyer Kab. Serang, acara tersebut diselenggarakan sebagai ajang silaturahmi serta untuk menghilangkan rasa jenuh selama satu tahun telah melaksanakan pekerjaan, tentunya dalam menghadapi tahun 2010 harus siap mental lahir dan batin. Peserta dari out bond ini yaitu seluruh petugas POPT di BPTPH provinsi Banten sebanyak  113 orang, unsur stap di BPTPH, Laboratorium dan instalasi jumlah seluruhnya 150 orang.

Pembukaan acara dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Prov. Banten; yang dengan sambutannya ” mengucapkan terima kasih serta apresiasi kepada seluruh jajaran petugas di BPTPH beserta petugas  POPT, yang sudah bekerja keras dan bekerja cerdas sehingga tingkat serangan OPT pada tanaman padi  menurun sekitar 5 % dibandingkan dengan keadaan serangan OPT pada  tahun 2009′ tentu capaian ini kita jangan sampai terlena. ”

Sementara itu kepala BPTPH Banten mengajak kepada seluruh POPT untuk senantiasa waspada terhadap gangguan OPT dimana akibat penomena iklim perkembangan OPT akan terus meningkat.

Pada saat itu juga disampaikan pengumuman pemberian hadiah untuk Kortikab/kota  terbaik dalam kategori  ” Laporan terbaik yang diserahkan ke BPTPH ” sebagai berikut : terbaik untuk kabupaten yaitu :  Tata Juwarta, SP Kotikab. Kab. Serang dan Rahmat, SP  terbaik untuk kota yaitu kota Serang.

Selanjutnya pembukaan acara OUT BOND dengan dimulai dari lomba karoke, dan masih banyak lagi acara yang menarik, semua blek tumplek  ke kolam dayung perahu… pokoknya seru, sehingga semua terlena dengan acara yang disuguhkan oleh panitia dan kepenatan pekerjaan yang dirasakan semuanya pada saat itu hilang. Tak terasa  waktu sudah menunjukan jam 14.00 WIB, dan peluit berkali- kali berbunyi tanda semua peserta untuk ganti pakaian dan bersiap untuk acara penutupan, bayangkan suasana hening sambil diselimuti oleh dinginnya udara gunung sesekali angin semilir meniup api ungun seperti menari, diawali dengan menyanyikan lagu  syukur dan diselingi dengan kata puitis , ahirnya tak terasa air mata ikut turun juga, terahir seperti biasa  kemesraan ………… acara resmi ditutup dan sampai jumpa di tahun berikutnya, insya allah. (tenk)

GERAKAN TANAM PADI MT. 2009/2010 DAN GEBYAR SL-PTT PADI

Januari 7, 2010

GERAKAN TANAM PADI MT. 2009/2010 DAN

GEBYAR SL-PTT PADI DI PROV. BANTEN

Pada tanggal 9 Nopember 2009 segenap insyan pertanian di provinsi Banten perhatian terpusat ke Desa Gunungcupu Kecamatan Cimanuk Kabupaten Pandeglang, dimana pada saat itu dilaksanakan acara “ Gerakan Tanam Padi MT 2009/2010 dan Gebyar Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi “

Pada hari Senin tersebut petani, POPT, PPL dan Stake holder pertanian blek tumplek di lahan sawah yang sudah dipersiapkan sejak awal, dibawah tenda berukuran besar masyarakat disekitar lokasi menyambut dengan hingar binger, hari itu petani istirahat dulu dalam aktivitas di sawah menyaksikan para inohong, maklum yang datang ada orang nomor wahid di Banten yaitu Ibu Gubernur Banten Rt, Atut Chosiah,.SE, dari Jakarta ada Dirjen Tanaman Pangan beserta rombongan, tak ketinggalan Ibu Direktur Perlindungan Tanaman Pangan juga hadir, serta dari Unsur Kabupaten Pandeglang selaku tuan rumah dipimpin langsung oleh Bupati  dan tentu didampingi oleh para pejabat eselon II (dua).

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Prov. Banten dalam laporannya sebagai ketua panitia menjelaskan bahwa tujuan dilaksanakannya acara ini adalah untuk meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan peningkatan produksi melalui kegiatan SL- PTT padi anatara pusat, provinsi dan kabupaten/kota; mempercepat penerapan komponen teknologi PTT padi oleh petanni sehingga dapat meningkatkanpengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha taninya untuk mendukung peningkatan produksi; meningkatkan produkstivitas, produksi dan pendapatan serta kesejahteraan petani.

Sementara itu Gubernur Banten dalam sambutanya menyatakan bahwa salah satu implementasi program pembangunan tanaman pangan yang akan di tumbuh kembangkan di prov. Banten  antara lain adalah pemanfaatan sarana  prasarana, akselerasi peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, rintisan pengembangan komoditas pangan alternatip, pemanfaatan siostem perbenihan, pengembangan perlindungan tanaman, pengolahan dan pemasaran, pengembangan kelembagaan, dan pemantapan manjemen pembiyaan pembangunan pertanian. Arah pembangunan seperti itu diharapkan akan mampu meningkatkan nilai tambah sesuai kebutuhan, sekaligus peranan petani, dapat mengtantisipasi tantangan dan peluang globalisasi.

Rangkaian acara pada pencanangan Gerakan Tanam Padi MT 2009/2010 dan Gebyar Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi , dilakukan temu wicara selanjutnya pencanangan tanam oleh Gubernur Banten di damping oleh Bupati Pandeglang, Dirjen Tanaman Pangan Deptan, Kadistanak prov. Banten dan unsur muspida lainnya.

Selain diadakan temu wicara juga ada penyerahan bantuan kepada kelompok tani se provinsi Banten dan penyerahan penghargaan kepada kelompok berprestasi sbb :

Sebelum acara berahir, dilanjutkan kunjungan ke stand pameran, disalah satu stand ada penampilan yang menarik yaitu dengan ditampilkanya hasil karya kelompok tani Alumni SL-PHT dengan menyajikan tentang pestisida nabati dan bahan bakunya, setelah ditanya tetang  siapa POPT yang suka berkunjung ke kelompoknya; langsung respon di jawab ….. oh itu mantri  Beni Sumantri katanya……. Sukurlah kelompok tani kenal dengan POPT nya, terima kasih pak Dachirul Anhar selaku kortikab kabupaten Pandeglang. ( Ateng A. SP,MM)

GERAKAN TANAM PADI  MT  2009/2010 DAN GEBYAR SEKOLAH LAPANG

PENGELOLAAN TANAM TERPADU  ( SL- PTT )

DI DESA GUNUNGCUPU KECAMATAN CIMANUK KAB. PANDEGLANG

SALAH SATU STAND KELOMPOK TANI PADA PAMERAN  PENCANANGAN TANAM  MT  2009/2010

DI DESA GUNUNGCUPU KECAMATAN CIMANUK KAB. PANDEGLANG

SPIDER Nama Majalah BPTPH Banten

Desember 26, 2009

Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Prov. Banten, salah satu Tupoksinya yaitu penyebarluasan informasi, maka untuk hal tersebut BPTPH Banten telah meluncurkan majalah yang di beri nama SPIDER, majalah tersebut berisi tentang Seputar Kegiatan BPTPH, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Siraman Rohani dan Tulisan dari pengalaman petani serta POPT. Majalah Spider edisi pertama terbit pada bulan Juni 2009 pada edisi ini topik utama yaitu tentang ” Menyongsong pertanian Organik ” serta menampilkan profil Kepala BPTPH Banten. Untuk penampilan yang pertama ini disadari oleh Redaksi bahwa cara oenyajian serta Caver masih perlu perbaikan.

Pada Edisi yang kedua SPIDER tampil agak beda dimana cavernya sudah sama dengan Majalah komersil lainnya. adapun isi pada majalah SPIDER edisi ini berisisi tentang : Kiprah Klinik Tanaman di provinsi Banten, Pemberdayaan Petani Melalui SL-PHT, Kebijakan perlindungan tananam dan Oprasionalnya di banten,Peraanan POPT/ PHP dalam mendorong perkembangan Perlindungan Tanaman, Evaluasi Sekolah Lapangan Perngendalian Hama Terpadu (SL-PHT) Tanaman Padi di Prov. Banten, Seputar OPT, Lalat buah dan OPT Tungro.

Selanjutnya kami berharap kepada rekan- rekan atau stake holder perlindungan untuk menyumbangkan buah pemikiran melalui Majalah SPIDER ini. Kritik saran saran dan sumbangan tulisan bisa dilamatkan ke Email kami; Satengnta@yahoo.com.        Terima kasih atas partisipasinya.

Desember 15, 2009

EVALUASI SEKOLAH LAPANGAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU ( SL-PHT) TANAMAN PADI

DI PROPINSI BANTEN

Sekolah lapangan merupakan salah satu metode yang diterapkan dalam aktifitas penyuluhan pertanian. Metode ini merupakan suatu cara belajar yang memadukan teori dan praktek melalui pengalaman petani atau kelompok tani yang ada dalam usaha tani. Prinsip dari metode ini adalah pendidikan bagi orang dewasa yang menekan pada aktifitas peserta dalam mengembangkan dirinya sebagai orang dewasa yang memiliki potensi untuk maju dan berkembang, termasuk dalam mempelajari teknologi baru.
Evaluasi Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL- PHT ) di Prov. Banten di lakukan pada 23 kelompok peserta SL PHT tersebar di 4 kabupaten dan 1 kota dari hasil evaluasi tersebut maka dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut:

  1. SLPHT telah memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan pengetahuan, sikap maupun keterampilan petani serta dapat meningkatkan pendapatan usahatani padi sawah di Propinsi Banten.
  2. Karakteristik petani peserta SLPHT memiliki hubungan dengan peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan PHT, namun hanya karakter tingkat pendidikan dan luas lahan garapan yang memiliki hubungan yang signifikan.
  3. Berbagai kelembagaan yang seharusnya berperan aktif dalam pemasyarakatan PHT di Propinsi Banten saat ini sebagian kurang berperan bahkan ada yang sudah tidak berperan sama sekali dalam pemasyarakatan PHT.
  4. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pemasyarakatan PHT di Banten  antara lain : kurangnya jumlah POPT/PPL di lapangan, terjadinya pemekaran wilayah, tidak seragamnya kelembagaan pemerintah yang menangani PHT, belum berkembangnya kelembagaan petani, kurangnya pelatihan PHT bagi petugas, dan pengaruh faktor-faktor teknis yang berada di luar jangkauan petani seperti kekeringan, banjir, kelangkaan pupuk, makin sulitnya tenaga kasar di bidang pertanian serta promosi industri pestisida secara besar-besaran.

CARA PEMBUATAN PESTISIDA NABATI

Desember 12, 2009

PANDUAN PEMBUATAN

BOKASI MEGA NPK,BOKASI PUPUK KANDANG DAN PESTISIDA NABATI

OLEH:

AHMADI (POPT-PHP KECAMATAN SUKARESMI KAB. PANDEGLANG )

  1. 1. BOKASI   MEGA    NPK

BAHAN-BAHAN

  1. 50 LITER AIR
  2. 3 kg NPK atau  (1.kg UREA, 1.kg SP36, 1.kg  KCL)
  3. ½ kg GULA PASIR atau GULA MERAH
  4. 1 liter M-BIO

CARA MEMBUATNYA.

Larutkan 1 liter M-BIO dengan 50 liter air simur, tembahkan 3 kg NPK atau (1. kg UREA, 1. kg TES36, 1. kg KCL) dan gula pasir atau gula merah ke dalam ember atau drem. Aduk sampai rata dan tutup rapat atau tidak ada celah udara yang masuk,diamkan selama 48 jam atau 2 hari (diaduk pagi sore) setelah 48jam atau 2 hari larutan tersebut siapa digunakan.

CARA PENGGUNAAN

Setiap 1liter bahan di tambah 10 liter air murni disemprotkan pada tanaman atau disiramkan.

Aplikasi atau penggunaannya 1 minggu 1 kali digunakannya.

  1. 2. BOKASI   PUPUK  KANDANG

BAHAN-BAHAN

  1. 50 LITER AIR MURNI
  2. 10 kg PUPUK KANDANG
  3. ¼ kg GULA PASIR ATAU GULA MERAH
  4. ¼ kg liter M-BIO

CARA MEMBUATNYA

Larutan ¼ liter M-BIO dengan 50 liter ar murni, tambahkan 10 kg pupuk kandang dan gula pasir atau gula merah kedalamdrem atau ember aduk sampai rata dan tutup rapat atau tidak ada celah udara yang masuk diamkan selama 4 – 7 hari (diaduk pagi dan sore).

CARA PENGGUNAAN

Setiap 1 liter bahan ditambah 10 liter air murni disiramkan pada pangkalan batang tanaman

Aplikasi atau penggunaannya 2 minggu 1 kali.

  1. 3. RACUN UNTUK WALANG SANGIT/LEMBING

BAHAN

  1. 1 ONS TEMBAKAU
  2. 50 LEMBAR DAUN SIRIH
  3. ½ LITER SPIRTUS atau M-BIO
  4. 10 LITER AIR MURNI

CARA PENBUATANNYA

Daun sirih ditumbuk halus dan diremas-remas dengan air, masukan tembakau diaduk hingga rata selanjutnya disaring dan tambahkan spritus atau M-BIO.

CARA PENGGUNAANNYA.

Bila ada gejala serangan walang sangit atau lembing segera semprotkan dengan dosis 1 – 1,5 liter dicampur dengan air 14 liter.

  1. 4. RACUN NABATI

BAHAN

  1. DAUN ATAU BUAH KECUBUNG ½ KG
  2. 10 LITER AIR dan ¼ LITER M-BIO

CARA MEMBUATNYA

Daun atau buah kecubung ditumbuk hingga halus, lalu campurkan dengan air remas-remas kemudian disaring dan campurkan M-BIO sampai 1 hari 1 malam.

CARA PENGGUNAAN

Semprotkan pada tanaman dengan dosis 1 – 1,5 liter dicampur dengan air 14 liter.

  1. 5. MANFAAT TANAMAN SUREN

A. BAGIAN TUMBUHAN YANG DIGUNAKAN.

Bagian yang digunakan adalahnya daunnya. Namun kulit batangnya berbau tajam dan dapat berperan sebagai pengusir hama. Penggunaan kulit batang sebagai bahan insektisida nabati sangat tidak dianjurkan karena akan menggagu pertumbuhan tanaman bila kulit batanggnya diambil.

B.KANDUNGAN AKTIF.

Daun suren mengandung Surenon,Surenin dan Surenolaklon.

C. HAMA YANG DIKENDALIKAN

Secara tradisional, daunnya dipakai untuk mengusir hama dengan menancapkan dipinggir sawah untuk menghalau WALANG SANGIT.

6. RACUN UNTUK MENGENDALIKAN HAMA SECARA UMUM

BAHAN :

  1. DAUN MIMBA  8 kg
  2. LEUNGKUAS  6 kg
  3. SERAI  6 kg
  4. DITERJEN atau SABUN COLEK 20 kg
  5. AIR  20 liter

CARA MEMBUATNYA.

Daun mimba, leungkuas, dan serai ditumbuk halus atau dihaluskan, sluruh bahan diaduk rata dalam 20 liter air lalu direndam selama sehari semalam (24 jam) keesokan harinya larutan disaring dengan kain halus, larutan hasil penyaringan diencerkan kembali dengan 60 liter air, larutan tersebut dapat digunakan untuk lahan 1 ha.

CARA PENGGUNAANNYA

Semprotkan cairan tersebut pada tanaman.

RACUN UNTUK WERENG BATANG COKLAT (WBC)

BAHAN :

  1. DAUN SIRSAK  1 GENGGAM
  2. RIMPANG JERINGAU  1 GENGGAM
  3. BAWANG PUTIH  20 SIUNG
  4. DETERJEN ATAU SABUN COLEK  20 gram
  5. AIR   20 LITER.

CARA MEMBUATNYA

Daun sirsak, rimpang jeriungau dan bawang putih ditumbuk atau dihaluskan seluruh bahan dicampur dengan deterjen kemudian direndam dalam 20 liter air selama 2 hari.

Keesok harinya larutan bahan disaring dengan kain halus, setiap 1 liter larutan hasil saringan dapat diencerkan dengan 10 – 15 liter air. Larutan pastisida nabati ini siap digunakan untuk mengendalikan hama wereng batang coklat.

CARA PENGGUNAANNYA.

Semprotkan cairan ke tnaman yang terserang wereng batang coklat, yang biasanya hama ini terdapat di tanaman bagian bawah.

8. RACUN UNTUK  HAMA BELALANG DAN ULAT

BAHAN :

  1. DAUN SIRSAK  50 LEMBAR
  2. DAUN TEMBAKAU  1 GENGGAM
  3. DITERJEN ATAU SABUN COLEK  20 gram
  4. AIR  20 LITER

CARA MEMBUATNYA

Daun sirsak dan daun tembakau ditumbuk halus, seluruh bahan diaduk sampai rata dalam 20 liter air lalu diendapkan semalam dan keesokan harinya larutan disaring dengan kain halus. Larutan hasil saringan diencerkan dengan air sebanyak 50 – 60 liter. Larutan siap digunakan.

CARA PENGUNANNYA

Sempotkan cairan tersebut ke tanaman yang terserang hama.

9. RACUN UNTUK HAMA WERENG COKLAT, PENGGEREK BATANG (SUNDEP/BELUK) DAN NEMATODA.

BAHAN :

  1. BIJI MIMBA  50 gram
  2. ALKOHOL  10 cc
  3. AIR   1  LITER

CARA MEMBUATNYA

Biji mimba ditumbuk halus dan diaduk dengan 10 cc alkhol lalu diencerkan dengan 1 liter air. Larutan diendapkan semalam dan keesokkan harinya larutan disaring.

CARA PENGGUNAANNYA

Sempotkan cairan tersebut pada tanaman yang terserang hama atau pada hamanya langsung. Hama tidak langsung mati. Maka lakukan penyempotan ulang 2 atau 3 hari lagi.

Ket: Selamat mencoba tulisan ini juga dapat dibaca di majalah spider yang diterbitkan oleh BPTPH Banten.

PENGENDALIAN OPT DENGAN PESTISIDA NABATI

Desember 12, 2009

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

DENGAN PESTISIDA NABATI

Para petani selama ini tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain yang harganya mahal, pestisida kimia juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah:

  1. Hama menjadi kebal (resisten)
  2. Peledakan hama baru (resurjensi)
  3. Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
  4. Terbunuhnya musuh alami
  5. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia
  6. Kecelakaan bagi pengguna

Keunggulan dan Kekurangan Pestisida Nabati

Alam sebenarnya telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman. Memang ada kelebihan dan kekurangannya. Kira-kira ini kelebihan dan kekurangan pestisida nabati.

Kelebihan:

  1. Degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari
  2. Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan napsu makan serangga walaupun jarang menyebabkan kematian
  3. Toksisitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relative lebih aman pada manusia dan lingkungan
  4. Memiliki spectrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif
  5. Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida kimia
  6. Phitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman
  7. Murah dan mudah dibuat oleh petani

Kelemahannya:

  1. Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering
  2. Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga)
  3. Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan baku
  4. Kurang praktis
  5. Tidak tahan disimpan

Fungsi dari Pestisida Nabati

Pestisida Nabati memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
  2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot. Rasanya ngak enak kali….
  3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
  4. Menghambat reproduksi serangga betina
  5. Racun syaraf
  6. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
  7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
  8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri

Halaman ini di copy dari isroi.wordpress.com